PemerintahanEkonomiSosial Politik

Dinas Lingkungan Hidup KBB Kecolongan, Sungai Cihaur Tercemar Limbah Industri

Air Sungai Merah, Bau Menyengat dan Berbusa

BANDUNG BARAT, SILOKANEWS.COM,-Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat Kecolongan, Sungai Cihaur di Kampung Pangkalan, RT 03/13, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Dugaan sementara pencemaran berasal dari limbah industri. Kondisi aliran sungai terlihat memprihati1nkan dengan air berwarna merah, dipenuhi busa, serta mengeluarkan bau menyengat.

Pantauan pada Jumat (7/8/2026), limbah cair tampak mengalir dari sebuah saluran pembuangan berukuran besar yang berada tepat di sisi Sungai Cihaur. Aliran tersebut kemudian masuk ke badan sungai yang bermuara ke Waduk Saguling.

Cairan berwarna merah terlihat mengalir cukup deras dari saluran yang tertanam di bawah tanah. Tak hanya membawa perubahan warna air, aliran tersebut juga menghasilkan busa dan aroma tidak sedap.

Warga menyebut limbah yang masuk ke Sungai Cihaur terkadang memiliki suhu cukup panas hingga menimbulkan kepulan seperti asap.

Kondisi tersebut dikeluhkan warga karena berdampak terhadap kehidupan di sungai. Populasi ikan disebut terus berkurang dan warga semakin kesulitan memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan pertanian.

Lebih jauh, warga menyebut pencemaran tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun. Bahkan, kondisi serupa diklaim terjadi hampir setiap hari tanpa perubahan berarti.

Padahal, Sungai Cihaur merupakan bagian dari daerah aliran Sungai (DAS) Citarum yang menjadi sasaran berbagai program pemulihan lingkungan, mulai dari program Citarum Bergetar, Citarum Berseri hingga program Citarum Harum.

Didin (50), warga yang juga berprofesi sebagai petani di sekitar bantaran Sungai Cihaur, mengatakan pencemaran tersebut sudah berlangsung sangat lama.

“Sudah lama kondisi limbah masuk sini, hampir 25 tahun terakhir. Beberapa kali ditinjau petugas Satgas, lalu lokasi pembuangannya dipindahkan. Setelah itu, sekarang kembali seperti ini, berbusa,” kata Didin.

Didin mengaku tidak mengetahui secara pasti sumber limbah tersebut. Namun, berdasarkan informasi yang beredar di tengah warga, limbah diduga berasal dari aktivitas industri pencelupan kain.

Menurut dia, karakteristik air sungai yang tercemar juga kerap berubah. Selain merah, air terkadang berwarna hitam maupun putih.
“Dari dulu warna airnya tidak berubah, cuma kadang merah, hitam, dan putih. Beberapa tahun lalu bahkan sempat mengeluarkan asap,” ujarnya.

Didin mengatakan kondisi air biasanya terlihat lebih baik pada waktu tertentu. Salah satunya ketika akhir pekan atau saat ada aktivitas pengambilan sampel oleh pihak perusahaan.

“Paling mending hari Minggu atau saat petugas dari pabrik mau mengambil sampel air. Debitnya jadi kecil, busanya juga tidak ada. Tapi kalau sudah selesai, kembali lagi seperti ini,” tuturnya.

Dampak pencemaran juga dirasakan terhadap populasi ikan. Menurut Didin, jenis ikan yang masih mampu bertahan di aliran sungai tersebut kini hanya sedikit.

“Dampaknya ikan habis. Paling sekarang yang bertahan itu ikan gabus,” katanya.

Ia pun tidak berani menggunakan air Sungai Cihaur untuk menyiram tanaman palawija miliknya. Sebab, menurut pengalaman warga, air sungai tersebut dapat membuat daun tanaman layu.

“Saya tidak berani memakai air sungai ini untuk menyiram daun tanaman palawija. Kalau terkena daun, langsung layu,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Ajo (40), warga lainnya. Ia memilih menggunakan air dari bagian hulu sungai yang lokasinya cukup jauh dari saluran pembuangan limbah untuk mengairi tanaman palawijanya.
Langkah tersebut dilakukan agar tanaman tidak terdampak pencemaran sebelum memasuki masa panen.

Ajo berharap pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk menghentikan pencemaran Sungai Cihaur. Menurutnya, kondisi tersebut bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak langsung terhadap mata pencaharian warga.

“Sungai tercemar merugikan petani dan nelayan. Ikan juga semakin sulit dipancing,” katanya.

Ajo bahkan mengaku pernah menyaksikan ikan mati secara massal di sungai tersebut sekitar setahun lalu.

“Saya sempat melihat ikan mati massal di sini. Sampai dapat ikan satu karung. Kalau sekarang sudah tidak ada lagi kasus ikan mati, mungkin karena ikannya memang sudah tidak ada,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button