Tak Berkategori

Transformasi Layanan Jantung JKN, Dirut BPJS Kesehatan Perkuat Peran Fasilitas Primer

RS Dustira Jadi Lokasi Sosialisasi Layanan Kesehatan Jantung Komprehensif

CIMAHI, SILOKANEWS.COM,– Dalam rangka menyosialisasikan layanan kesehatan jantung yang komprehensif bagi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), BPJS Kesehatan menggelar Media Workshop bertajuk ‘Kupas Tuntas Layanan Jantung dalam Program JKN: Dari Akses Pelayanan Berkualitas hingga Layanan Jantung Canggih bagi Peserta’ di Rumah Sakit Tingkat II 03.05.01 Dustira, Cimahi, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus pemaparan kritis mengenai kondisi, tantangan, dan arah masa depan sistem kesehatan nasional yang dihadiri para pimpinan fasilitas kesehatan, perwakilan media, serta pengelola JKN.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Mayjen TNI (Purn.) Dr. dr. Prihati Pujowaskito mengawali pemaparannya dengan rasa haru lantan kembali ke tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan karir profesionalnya.

“Saya merasa seperti reuni, karena pernah bertugas di Rumah Sakit Dustira selama satu tahun, yaitu 2016 hingga 2017 sebelum pindah ke RS Gatot Soebroto. Bertemu rekan kerja dan pasien lama di sini adalah kebanggaan tersendiri,” kata Pujo.

Dalam kesempatan tersebut, Pujo juga menekankan pentingnya peran media sebagai bagian dari ekosistem pentahelix JKN, bersama penyelenggara layanan, akademisi, profesi kesehatan, dan pengawas dalam menyampaikan informasi akurat agar manfaat program menyebar luas dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Sebagai penyelenggara asuransi sosial kesehatan terbesar di dunia, BPJS Kesehatan mencatat cakupan peserta mencapai hampir 280 juta jiwa atau setara 98,16 persen UHC, meskipun tingkat keaktifan peserta saat ini berada di angka sekitar 80-81 persen,” katanya.

Pujo menjelaskan, jalinan kerja sama telah dibangun dengan 27 ribu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan 3.200 rumah sakit yang sebagian besar merupakan pihak swasta yang menghasilkan rata-rata hampir dua juta transaksi layanan setiap harinya, dengan alokasi dana kesehatan mencapai Rp500 hingga Rp550 miliar per hari.

Di tengah skala operasi raksasa ini, ia menegaskan prinsip utama BPJS Kesehatan, yakni membuka akses seluas-luasnya, menjaga mutu pelayanan, serta menjamin perlindungan finansial peserta.

“Tantangan global yang kita hadapi itu memastikan pelayanan tidak hanya berfokus pada jumlah atau volume tindakan, namun harus bergeser menjadi berbasis nilai (value-based) yang membuktikan dampak kesehatan terukur dan manfaat nyata bagi pasien,” tegasnya.

Tantangan Kinerja: Cash Flow Gap, Tingkat Keaktifan, dan Pergeseran Pola Pelayanan

Lebih lanjut Pujo menuturkan terkait istilah yang sering dianggap sebagai defisit, namun diklarifikasikannya sebagai kesenjangan arus kas atau cash flow gap.

Kondisi ini muncul karena pendapatan iuran bulanan sekitar Rp14 triliun belum sebanding dengan kebutuhan pembiayaan pelayanan yang mencapai Rp16 triliun per bulan, sehingga selisihnya mencapai sekitar Rp2 triliun.

“Hal ini bukan kerugian usaha dagang, melainkan karakteristik sistem asuransi sosial yang mengumpulkan iuran untuk membiayai pelayanan kesehatan peserta,” tegasnya.

Pujo menyebutkan, faktor utama mencakup tingkat keaktifan peserta yang belum optimal, sekitar 54 juta peserta belum aktif yang disebabkan oleh dua hal mendasar, yakni kesediaan membayar (willingness to pay) yang masih rendah (cenderung membayar saat sakit saja) serta ketidakmampuan membayar (inability to pay) bagi kelompok yang memang kurang berdaya.

“Selain itu, penyesuaian nilai iuran yang belum dilakukan selama lima tahun, tingginya inflasi biaya medis, pertumbuhan jumlah penduduk, ekspektasi masyarakat, serta potensi penyimpangan pelayanan atau kecurangan turut membebani sistem,” sebutnya.

Lebih jauh, Pujo menyoroti sistem pelayanan yang masih berbasis volume akibat pola pembayaran yang belum sepenuhnya berorientasi hasil.

“Sistem yang belum menerapkan remunerasi layanan memicu kecenderungan menambah jumlah tindakan atau pemeriksaan canggih meskipun tidak mutlak diperlukan, bukan berorientasi pada manfaat klinis,” imbuhnya.

“Contoh, penggunaan alat canggih seperti MRI yang tidak mengubah terapi bagi pasien lansia dengan kondisi demensia yang hanya butuh perawatan suportif,” sambungnya.

Pujo pun menekankan reformasi menuju pembelian layanan strategis yang memprioritaskan mutu dan hasil pengobatan, serta penguatan FKTP sebagai garda terdepan (gatekeeper) untuk menekan biaya rujukan yang tidak perlu.

Fokus Penyakit Jantung: Beban Biaya Terbesar dan Kesiapan Layanan RS Dustira

Menghadapi tahun 2025, ungkap Pujo, data proyeksi menunjukkan total pendapatan dikelola BPJS Kesehatan mencapai Rp191,3 triliun, namun alokasi masih didominasi untuk perawatan kuratif di rumah sakit (87,1 persen), sementara pelayanan primer hanya menerima 12,9 persen.

“Secara spesifik, kasus penyakit katastropik menyedot anggaran terbesar, di mana penyakit jantung menempati posisi krusial dengan alokasi mencapai Rp17,3 triliun,” ungkapnya.

“Diperkirakan terjadi peningkatan jumlah kasus penggunaan fasilitas Cath Lab menjadi lebih dari 138 ribu kasus pada 2025, naik dua kali lipat dibandingkan tahun 2021,” sambungnya.

Di sisi pelaksana layanan, Direktur Rumah Sakit Tk. II 03.05.01 Dustira, Letkol Ckm dr. Muchlas Fahmi melaporkan kesiapan pihaknya dalam mendukung layanan jantung terpadu bagi peserta JKN.

“Kami memiliki fasilitas ruang rawat intensif jantung (ICVCU) dan laboratorium kateterisasi jantung (Cath Lab) yang mampu menerima rujukan serta melakukan tindakan intervensi koroner perkutan (PCI),” kata Muchlas.

Data kinerja rumah sakit menunjukkan sepanjang Januari hingga Agustus 2024, RS Dustira telah melayani sebanyak 975 pasien peserta BPJS Kesehatan dengan layanan Cath Lab, yang seluruh biayanya ditanggung dalam skema JKN. Pihaknya berharap media dapat melihat langsung proses layanan di lapangan.

“Kegiatan ini menjadi ruang dialog sekaligus memperkuat sinergitas antara BPJS Kesehatan, rumah sakit, media dan masyarakat luas,” jelasnya.

“Kami sadar peningkatan mutu adalah kerja berkelanjutan, maka terus berinovasi agar pelayanan berjalan cepat, tepat, aman, bermutu, dan berpusat pada pasien,” tandasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button