Faisal Haris Sebut Golkar Soroti Fenomena LGBT

BANDUNG BARAT, SILOKANEWS.COM,-Ditengah derasnya pengaruh budaya global dan perkembangan media digital, isu LGBT kembali memantik perdebatan di ruang publik. Perbedaan pandangan yang muncul dinilai wajar dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, namun harus disikapi secara bijak agar tidak berubah menjadi konflik sosial maupun saling serang di tengah masyarakat.
Salah satu Pimpinan Dewan Etik DPP Partai Golkar, Faisal Haris menilai, isu LGBT merupakan persoalan sensitif karena berkaitan langsung dengan nilai agama, budaya, dan norma sosial yang hidup di masyarakat Indonesia.
“Isu seperti LGBT memang sensitif dan sering menimbulkan perbedaan pendapat di tengah masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang agama, budaya, dan nilai sosial yang kuat,” terang Faisal, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurut Faisal, perbedaan pandangan terhadap isu sosial tidak seharusnya berkembang menjadi permusuhan ataupun ruang saling menghina antarkelompok masyarakat.
Karena itu, ia mengingatkan, pentingnya menjaga etika dalam menyampaikan pendapat di ruang publik, terlebih pada isu-isu yang menyangkut moral dan nilai sosial masyarakat.
“Dalam ajaran agama maupun etika sosial, menjaga akhlak, menghormati sesama manusia, dan menghindari penghinaan adalah hal yang penting,” katanya.
Terkait hal itu, ia menegaskan, masyarakat tetap memiliki hak menyampaikan sikap maupun pandangan secara tegas. Namun, penyampaian tersebut harus dilakukan secara santun dan tidak merendahkan martabat pihak lain.
“Menyampaikan pendapat boleh dilakukan dengan tegas dan jelas, tetapi tetap santun, tidak provokatif, dan tidak merendahkan martabat orang lain,” ungkapnya.
Dijelaskan Faisal, pentingnya pendekatan yang lebih edukatif dalam menghadapi perubahan sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, nasihat maupun pandangan moral akan lebih efektif bila disampaikan melalui keteladanan dan pendekatan yang bijak.
“Nasihat yang baik akan lebih bermanfaat bila disampaikan dengan hikmah, kesabaran, dan keteladanan,” tuturnya.
Selain itu, ia menilai, penguatan pendidikan moral dan peran keluarga menjadi faktor penting dalam membangun karakter generasi muda di tengah derasnya pengaruh media digital dan budaya global.
Sebab, perkembangan teknologi informasi saat ini dinilai membawa tantangan besar terhadap pembentukan pola pikir dan perilaku anak muda.
“Masayarakat perlu memperkuat pendidikan moral, peran keluarga, serta pengawasan terhadap pengaruh media digital agar generasi muda memiliki karakter yang kuat dan mampu berpikir sehat dalam menghadapi berbagai perubahan sosial,” jelasnya.
Di tengah perdebatan yang terus berkembang, ia mengingatkan, perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan demokrasi dan masyarakat majemuk yang tidak bisa dihindari.
Karena itu, hal terpenting yang harus dijaga bersama ialah persatuan sosial, rasa kemanusiaan, dan ruang dialog yang sehat di tengah perbedaan.
“Yang perlu dijaga bersama adalah persatuan, rasa kemanusiaan, dan suasana dialog yang sehat agar Indonesia tetap damai, beradab, dan saling menghormati,” pungkasnya.


