Pendidikan

Sambangi SD Terpencil, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Inventarisir Kebutuhan Siswa

BANDUNG BARAT, SILOKANEWS.COM, –
Di Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih terdapat sekolah-sekolah terpencil dengan akses yang sulit dijangkau siswa. Salah satunya, SDN Giriasih, Kampung Gabusgirang, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin.

Sekolah dasar tersebut berdiri di dataran tinggi tepat di bawah kawasan hutan pinus yang dikelola Perhutani. Akses menuju sekolah cukup ekstrem karena hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, sementara kendaraan roda empat tidak dapat masuk ke lokasi.

Bahkan, sebagian besar siswa harus berjalan kaki menembus jalan setapak, tanah licin, hingga jalur perbukitan untuk bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar setiap hari.

Guru SDN Giriasih, Elis Rirahayu menyampaikan, saat ini sekolah tersebut memiliki 116 siswa. Mereka berasal dari tiga desa yakni Desa Karangtanjung, Batulayang, dan Cililin.

“Kalau Desa Karangtanjung itu satu RW, Desa Cililin satu RT, sementara dari Desa Batulayang ada dua RT. Total siswa kami 116 orang,” ujar dia.

Menurut Elis, mayoritas siswa tinggal cukup jauh dari sekolah. Bahkan siswa yang berasal dari Kampung Cimuncang dan Kepusilir harus berjalan kaki sejauh sekitar dua kilometer dengan waktu tempuh lebih dari 30 menit.

“Bahkan ada anak yang berangkat dari rumah jam setengah enam pagi supaya tidak terlambat masuk sekolah. Kalau musim hujan jalannya lebih berat karena licin dan rawan longsor,” ucapnya.

Ia menjelaskan, seluruh siswa di SDN Giriasih setiap hari berjalan kaki menuju sekolah. Hanya beberapa siswa kelas rendah yang sesekali dijemput orang tuanya saat pulang sekolah.

“Kalau yang jalan kaki itu hampir 100 persen. Paling ada satu dua anak kelas satu yang kadang dijemput. Selebihnya semua jalan kaki,” katanya.

Selain akses yang sulit, kondisi jalan tanah dan area persawahan juga sering menjadi kendala bagi siswa saat musim hujan tiba. Tidak sedikit siswa yang terjatuh karena jalan berubah licin dan berlumpur.

“Kalau musim hujan kadang anak-anak tidak bisa lewat karena jalannya becek. Ada juga yang jatuh terus pulang lagi ke rumah. Untuk yang lewat Kepusilir itu jalannya tanah semua, lewat hutan pinus dan sawah,” tutur Elis.

Menurutnya, pihak sekolah tidak memaksakan siswa datang ke sekolah apabila kondisi cuaca dan akses jalan dinilai membahayakan keselamatan. Sekolah memberikan toleransi dengan mengganti kegiatan belajar melalui penugasan di rumah.

“Kalau memang akses tidak memungkinkan atau ada longsor, kami maklumi anak belajar dari rumah dan diberikan tugas. Keselamatan tetap yang utama,” katanya.

Elis berharap pemerintah daerah dapat segera memperbaiki akses jalan menuju SDN Giriasih karena persoalan tersebut menjadi kebutuhan paling mendesak. Sulitnya akses juga berdampak terhadap distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah tersebut.

“Akses jalan ini yang paling penting. Program MBG juga jadi terkendala karena kendaraan pengantar sering tidak bisa sampai ke sekolah. Akhirnya anak-anak harus mengambil ke bawah dan itu mengganggu pembelajaran,” tandasnya.

Kondisi ini mendapat tanggapan dari Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail. Ia bersama pejabat lainnya langsung meninjau kondisi SDN Giriasih, Selasa (12/5/2026).

“Tadi kami lihat memang kondisi sekolah perlu ada perbaikan. Seperti atap dan insfratuktur lainnya. Lalu juga ketersediaan air,” ujar dia.

Jeje menyebutkan, sejumlah persoalan yang ditemukan akan segera ditindaklanjuti agar kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut bisa berjalan lebih optimal.

“Saya minta Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat agar segera melakukan perbaikan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar dan menambah semangat bersekolah,” tandasnya.

Sementara itu, salah seorang siswa, Kelas V SDN Giriasih, Desi Nursyifa mengatakan, kondisi sekolah yang berada di lokasi terpencil menjadi tantangan tersendiri untuk mendapatkan ilmu.

“Saya berangkat dari rumah pukul 06.00 WIB, dengan berjalan kaki dari rumah,” katanya.

Ia menambahkan, saat menghadapi cuaca yang buruk biasanya dirinya membekali diri dengan sandal atau alat pelindung hujan.

“Ya mudah-mudahan kalau sudah diperbaiki setidaknya kami tidak ketakutan kalau hujan akan longsor atau jalanan licin,” katanya.

Mendengar kondisi memprihatinkan itu, Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail meninjau langsung sekolah terpencil di Kampung Gabusgirang, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (12/5/2026).

SDN Giriasih tersebut berada di puncak perbukitan. Bahkan lokasi sekolah ini sekitar 2,6 kilometer dari jalan utama Kecamatan Cililin.

Jeje Ritchie Ismail mengatakan, menuju lokasi sekolah tersebut cukup ektrem dengan lebar jalan satu sampai dua meter dan kiri serta kanan jurang.

“Setelah sampai di sini sejumlah kebutuhan sekolah sangat diperlukan seperti ketersediaan air dan perbaikan infrastruktur sekolah,” katanya, Selasa (12/5/2026).

Ia menambahkan, pihaknya langsung menginventarisir kebutuhan yang mendesak untuk segera ditindaklanjuti oleh Pemkab Bandung Barat.

“Saya minta Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung Barat agar segera melakukan perbaikan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar dan menambah semangat bersekolah,” tambahnya.

Masih kata dia, pihaknya pun akan menindaklanjuti keinginan warga terkait kondisi jalan yang ingin mendapatkan perbaikan.

“Ini diperlukan perbaikan yang luar biasa, melalui TPT dan lain-lain. Ini juga tantangan yang harus diselesaikan dan kurang ada 2,6 kilometer yang harus diperbaiki,” katanya.

Ia menegaskan, pihaknya berkomitmen melakukan perbaikan tersebut dapat segera terealisasikan secara bertahap lantaran sejumlah proses yang harus dilalui.

“Pelan-pelan kita perbaiki, seperti tadi saya sampaikan pelan-pelan kita benahi Bandung Barat satu persatu, mohon doa dan dukungannya dan kesabarannya dari seluruh warga,” katanya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button