Tak Berkategori

Perlawanan Gerak Tubuh dan Gugatan Ekologis Hijau Sawit

Oleh : Nadya Gadzali (Penulis, Peneliti Kebudayaan, dan Penggiat Literasi Bandung)

Menyaksikan rekaman perjalanan sepuluh penari kontemporer dari pedalaman Indragiri Hulu hingga pesisir Bengkalis, memicu sebuah perenungan dalam diri saya. Meski hanya mengamati dinamika Kemah Tari Riau 2026 secara digital—melalui pembacaan atas catatan harian yang diarsipkan oleh pengamat Iin Ainar Lawide di platform Medium—jarak geografis yang membentang ribuan kilometer jauhnya mendadak runtuh. Potret agraris Sumatra yang terkepung industri monokultur kelapa sawit hadir bukan sekadar sebagai laporan visual, melainkan sebagai alarm darurat yang menggugat ilusi kenyamanan kita di wilayah urban Jawa yang sering kali merasa terpisah dari krisis ekologis luar pulau.

Rangkaian Kemah Tari Riau telah berlangsung dengan kegiatan inti berupa residensi yang diadakan pada 1 hingga 10 Juni 2026. Program residensi MTN LAB Kemah Tari Riau 2026—sebuah sinergi antara Kementerian Kebudayaan RI, Wan Dance Studio, Forum Tari Riau, dan Sasikirana KoreoLAB & Dance Camp—menjadi ruang di mana tubuh para seniman ditantang untuk menyelaraskan diri dengan ritme hidup masyarakat adat. Tahun ini, Kemah Tari Riau menerima 29 pendaftar dari 14 provinsi di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi, terpilih 10 peserta dari 8 provinsi, yaitu: Alsafitro (Sumatera Barat), Denta Pramana Putra (Lampung), Habibillah (Aceh), I Komang Tri Ray Dewantara (Bali), Marzuq Al Fawwaz M (Riau), Menthari Ashia (Jawa Barat), Nur Rifzky Hidayat (Riau), Olenda Amelia (Jambi), Putri Anjani (Riau), dan Tania Syahla Asha (Kepulauan Riau).
Ketika menyusuri rute dari Pekanbaru menuju Belilas, para peserta langsung dihadapkan pada ketimpangan tata ruang agraria: jalur darat yang mengalami kerusakan parah, kepungan wilayah korporasi, serta lanskap industri yang kian menggeser ruang hidup komunitas lokal. Di titik ini, koreografi kontemporer tidak lagi dapat dipandang sebagai estetika semata, melainkan bertransformasi menjadi medium sosial yang mendokumentasikan degradasi lingkungan.
Narasi dialog bersama tokoh adat Suku Talang Mamak, seperti Batin Darwin dan Bang Gilung di bawah temaram Belilas, menyingkap carut-marut krisis yang terjadi di lapangan. Lewat dokumentasi tertulis yang saya telaah, tergambar jelas kecemasan kolektif yang menghantui mereka: mulai dari ancaman terhadap identitas kultural akibat arus modernisasi, manipulasi visual perkebunan sawit yang menyamarkan eksploitasi tanah adat menjadi komoditas ekonomi semata, hingga fenomena migrasi generasi muda yang memutus rantai transmisi pengetahuan leluhur.
Ketika memasuki Desa Aur Cina dan Talang Gedabu, para penari membaur dalam pola hidup keseharian masyarakat setempat melalui aktivitas komunal dan metode eksperimental Sensory Ethnography. Menembus medan jalanan yang ekstrem, mereka menyerap petuah dari para tetua, termasuk wejangan Batin Congok di Ruang Haluan mengenai eksistensi tanaman obat herbal yang kini ruang hidupnya kian terdesak oleh ekspansi perkebunan monokultur. Rekaman memori botani ini mengendap kuat dalam kesadaran kinestetik para seniman, sebelum mereka menempuh perjalanan lintas darat dan air selama sepuluh jam menuju Bengkalis.
Pergeseran kultural yang kontras terasa ketika rombongan menginjakkan kaki di kawasan pesisir. Di Kampung Zapin, rasa lelah perjalanan seketika luruh begitu disambut oleh dentuman Kompang dan kelincahan gerak Tari Zapin Meskom yang diwariskan oleh maestro Baharuddin. Proses regenerasi di wilayah ini terlihat begitu organik, ditandai oleh kemahiran anak-anak setempat dalam membawakan tarian tersebut. Di Pantai Selat Baru, eksplorasi ketubuhan diperdalam lewat ruang kolaborasi Tukuk Menukuk (pertukaran metode gerak antarpeserta), yang diperkaya dengan pembacaan sastra lisan seperti Bedikeh, lantunan syair Dodoi, hingga keluwesan Tari Joget Mak Gendong dari Suku Akit. Setelah menyerap pemaparan sosiokultural seputar kebudayaan Melayu Pesisir dari budayawan Musrial Mustafa, seluruh peserta bergerak kembali menuju Pekanbaru.
Kegiatan inkubasi kemudian berlanjut di Taman Budaya Provinsi Riau. Di tempat ini, keberagaman latar belakang teknik para penari—mulai dari basis modern milik Nur Rifzky, struktur Joged Lambak garapan Marzuq, hingga pendekatan ketubuhan khas Jawa Barat yang dibawa Menthari Ashia—melebur jadi satu. Di bawah arahan mentor Kemah Tari, Hartati, dalam ruang proses Baguru Jo Tuo Tobo, segala endapan memori sensorik, mulai dari kepulan debu jalanan sawit hingga embusan angin pesisir, dikristalisasikan menjadi sebuah presentasi karya kolektif bertajuk “Riuh yang Tertinggal”.
Alih-alih menawarkan kesimpulan instan, fasilitator proses kreatif Keni K. Soeriaatmadja justru menekankan sebuah prinsip mendasar dalam berkesenian, yaitu “merawat pertanyaan.” Melalui sudut pandang itu, keresahan yang dirasakan seniman tidak diposisikan sebagai beban yang menuntut jawaban cepat, melainkan sebuah ruang refleksi untuk mengendapkan gagasan sekreatif mungkin. Proses inilah yang membuat trauma perjalanan dan kegelisahan ekologis tidak diredam menjadi sekadar tontonan yang elok, melainkan dipelihara sebagai sebuah gugatan yang terus mengusik kesadaran.
Di atas panggung Anjung Seni Idrus Tintin, karya ini dipentaskan bukan sebagai tontonan yang berjarak dari realitas, melainkan sebuah manifestasi atas kelelahan fisik di jalanan, kepulan asap dapur rumah panggung, dan kerentanan peradaban yang ruang hidupnya terancam oleh masifnya industri kelapa sawit. Pertunjukan ini diakhiri secara inklusif lewat keterlibatan penonton dalam gerak Randai Kuantan bersama Komunitas Limuno—sebuah momen komunal yang meruntuhkan sekat pemisah antara seni pertunjukan, tradisi, dan gerakan advokasi lingkungan.
Melalui arsip teks yang bergerak dari Riau ke Bandung ini, sebuah ironi besar tersingkap. Ketika para tetua adat menitipkan pengetahuan mereka di tengah kepungan industri monokultur, tanggung jawab untuk merawat ingatan itu kini berpindah ke ketubuhan kita semua. Menari, pada akhirnya, adalah laku mendengarkan. Bagi kita yang terbiasa menikmati seni di ruang teater kota yang nyaman, pertanyaannya kini kembali pada diri kita sendiri: Apakah kita hanya akan mengagumi keindahan gerak di atas panggung megah, atau bersedia ikut menyuarakan kedaulatan ruang hidup mereka yang kian terhimpit? Jurnal harian telah diarsipkan, namun gema kegelisahan itu kini tetap hidup di dalam benak pembaca.
***
Sumber Rujukan & Atribusi Gagasan:
Esai ulasan ini ditulis berdasarkan pembacaan, kompilasi data, dan analisis kritis terhadap ragam catatan etnografi harian serta dokumentasi lapangan yang dipublikasikan oleh pengamat Kemah Tari Riau, Iin Ainar Lawide, melalui platform Medium selama berlangsungnya program MTN LAB Kemah Tari Riau.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button