PemerintahanSosial Politik

Jalan Rusak Belum Pernah Dibangun, Warga Bandung Barat Protes Kekecewaan Pada Pemerintah

Jalan Citatah-Pasegan Berbatu Kerap Makan Korban

BANDUNG BARAT, SILOKANEWS.COM, –
Kecewa lantaran Ruas Jalan Citatah-Pasegan, tak kunjung mendapat perhatian, warga Desa Citatah dan Desa Cipatat, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menggelar aksi protes dan pemasangan spanduk.

Warga Kampung Sanghyang, Desa Cipatat, Oni (45) mengatakan, aksi tersebut sebagai bentuk desakan agar pemerintah daerah kabupaten/provinsi untuk segera melakukan pembangunan instruktur jalan sepanjang lima kilometer yang tak pernah tersentuh.

“Intinya, keluhan ke pemerintah daerah baik ke Bupati atau ke Gubernur, tolonglah Ruas Jalan Citatah-Pasegan ini untuk dibangun,” kata Oni saat dikonfirmasi, Selasa (20/10/2026).

Ia menjelaskan, kendala utama yang kerap menjadi alasan lambatnya perbaikan jalan tersebut berkaitan dengan status aset perkebunan. Berdasarkan data dan prosedur pemerintahan, rencana pengecoran jalan harus mengantongi izin dari pihak perkebunan, yakni PT Siwani Jayasakti, selaku pengelola lahan.

Namun, Oni mengungkapkan, setelah adanya komunikasi dan penyampaian surat secara berulang, pihak direksi perusahaan sebenarnya sudah memberikan sinyal hijau secara lisan.

“Saya sudah berkomunikasi secara langsung ke direkturnya, bahwa direktur tidak keberatan dengan adanya dicor jalan itu. Tapi harus sekelas 35 ton, jadi mereka minta kualitas pengecorannya sekelas jalan provinsi,” ungkapnya.

Persoalan tak berhenti di situ, karena muncul kebingungan antara pihak pemerintah desa, kecamatan, dan pihak perkebunan. Pihak desa dan kecamatan meminta kepastian berupa surat tertulis resmi dari PT Siwani Jayasakti.

Sementara di sisi lain, pihak perusahaan belum mau mengeluarkan surat tertulis sebelum ada kepastian atau kesanggupan anggaran pengecoran berkapasitas 35 ton tersebut. Kendala administratif dan pembiayaan inilah yang membuat pembangunan jalan terus terkatung-katung.

“Nah, biar ada kepedulian dari pemerintah, adapun tekniknya seperti apa, itu kami kembalikan ke pemerintah. Karena warga juga kan warga pemerintah, kami juga kan orang Indonesia, sama,” ucapnya.

Ia juga menyinggung kontribusi masyarakat di wilayahnya selalu menaati aturan dan rutin menunaikan kewajiban membayar pajak kepada negara. Tak hanya itu, ia juga mempertanyakan partisipasi warga dalam setiap pesta demokrasi yang tidak pernah absen menggunakan hak pilihnya.

“Tiap tahun pemilu ikutan, tidak pernah golput. Masa sih enggak ada perhatiannya dari pemerintah buat warga kami,” keluhnya dengan nada prihatin.

Sebelumnya, akses mobilitas warga di tujuh rukun warga (RW) yang tersebar di Desa Cipatat dan Desa Citatah hingga kini masih terkendala kondisi Ruas Jalan Citatah-Pasegan. Jalur vital tersebut dinilai jauh dari kata layak untuk dilalui kendaraan.

Jalan sepanjang lima kilometer itu masih berupa tanah dan bebatuan, sehingga kerap menghambat mobilitas warga, aktivitas perekonomian, hingga akses pendidikan dan layanan kesehatan warga di dua desa.

Ketua RW 20 Desa Cipatat, Pepen, mengatakan bahwa Ruas Jalan Citatah-Pasegan belum pernah mendapatkan pembangunan permanen sejak dahulu. Kondisi jalan yang tak kunjung berubah membuat warga terus bergantung pada akses yang memprihatinkan.

“Jadi bukan rusak tapi memang belum dibangun sejak dahulu. Mungkin seumur hidup saya, masih belum tersentuh oleh perbaikan,” katanya.

Pepen menuturkan, kondisi jalan semakin membahayakan ketika diguyur hujan deras karena permukaan tanah berubah menjadi licin dan melumpuhkan arus lalu lintas.

“Banyak kendaraan yang melintas kehilangan kendali hingga pengendaranya terjatuh. Saat ada warga yang sakit juga cukup kesulitan untuk membawanya ke fasilitas kesehatan. Anak-anak sulit menjangkau sekolah. Petani juga sulit mengangkut hasil panen, ongkosnya jadi relatif mahal, lantaran aksesnya sulit dijangkau kendaraan,” tandasnya.***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button