Galian Kabel di Kota Bandung Tempatkan Rakyat Jadi ‘Bebegig Sawah’
Oleh : Andri Gunawan (Anggota DPRD dan Ketua Karang Taruna Kota Bandung)

BANDUNG, SILOKA,- Babak belurnya jalanan Bandung bukan semata galian yang dikerjakan ugal-ugalan. Ia adalah potret nyata para penyelenggara kota yang nir-empati, sekaligus bukti bahwa rakyat tidak pernah ditempatkan pada tahta terhormat sebagai pemegang saham kedaulatan melainkan diperlakukan tak jauh lebih baik dari ‘bebegig sawah’
Ini Bandung bukan Zimbabwe, galian hanya proyek sepele, tidak serumit membuat reaktor nuklir atau roket luar angkasa menuju Mars. Tapi ketika melihat proyek galian dilaksanakan rasanya saya sedang piknik ke Zimbabwe di tahun 60an dimana proyek dikerjakan secara manual oleh tenaga manusia, bersenjatakan cangkul, beliung dan tenaga buruh yang bahkan tak diberikan perlengkapan keselamatan yang memadai. Ketika melihat proyek galian itu kebanggaan sebagai orang Bandung yang disini ada Unpad dan ITB luntur seketika.
Tahun lalu sesungguhnya masalah serupa pernah terjadi, malah sudah jatuh beberapa korban pengendara sepeda motor. Seolah tidak pernah belajar dari kesalahan, tanah galian kembali menumpuk, terkena hujan kemudian melumuri jalan, becek, licin. Bekas galian ditimbun tak rapi kemudian jadi lubang yang menganga, pengendara motor bisa kembali jatuh.
Tapi, ah biar saja lah. Rakyat jelata toh tidak akan mampu berbuat apa-apa. Paling hanya menggerutu, atau memaki-maki status di wa dan instagram itupun yang lihat hanya teman dan tetangga, paling banyak 50an viewersnya. Kasihan sekali ya jadi rakyat biasa di kota ini. Ada dan tiadanya sama saja, nggak dianggap.
Kepada PT BII dan Walikota, jika belum bisa mempermudah hidup warga, minimal jangan menambah kesulitannya.
Cintailah kota ini sepenuh hati, orang jika benar mencinta maka ia tidak akan pernah mimbiarkan hal buruk terjadi pada yang dicintainya. Lelaki mencintai pasti full effortnya dan melindungi.
Lihatlah cinta seorang bapak ojek online pada anaknya, ia ngojek sekuat tenaga agar anak-anaknya bisa makan layak dan bayar sekolah, tak peduli panas atau hujan, macet atau banjir. Itulah cinta, ia menggerakkan orang berjuang untuk mereka yang dicintainya.
Pak Wali tak harus ngojek dan panas-panasan, cukup datangi titik-titik lokasi galian, telpon dan damprat Dirut BII dan Pelaksana Proyek. Sudah seharusnya Pak Wali marah.
Pertama, kotanya dibuat babak belur bukan main, warganya dirugikan dan dicelakakan. Kedua, orang kan nggak tau siapa Dirut PT BII, singkatan BII saja orang bandung mana ngurus, adalah Wali Kota yang kena getahnya dan dimaki-maki warganya sendiri.
Dalam bulan Ramadhan ini, saya nggak boleh marah-marah. Tapi barangkali bolehlah saya bertanya (dengan nada halus) apakah Pak Wali benar-benar mencintai kota ini?
Andri Gunawan
2 Ramadhan 1447 H



