Momen Tahun Baru, Dusun Bambu Suguhkan Musik Etnik Genteng Jatiwangi
Konsisten Usung Visi Wisata Berbasis Budaya Sunda

Momen Tahun Baru, Dusun Bambu Suguhkan Musik Etnik Genteng Jatiwangi
BANDUNG BARAT, SILOKANEWS.COM,- Untuk menyuguhkan hiburan sekaligus edukasi tradisi Sunda kepada pengunjung, Obyek wisata Dusun Bambu di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyuguhkam sajian hiburan musik etnik ‘Lair’
Grup musik yang alat musiknya didominasi berbahan dasar tanah liat sebagai identitas tradisi Jatiwangi, Majalengka ini telah melanglang buana ke mancanegara.
Pemilihan penampilan seni tradisi sunda ini selaras dengan visi Dusun Bambu yang mengedepankan wisata berbasis budaya Sunda. Diharapkan, wisatawan dari berbagai daerah mendapat pengalaman berbeda saat berlibur nataru di Dusun Bambu.
” Pada momen libur tahun baru ini kami menghadirkan rampak genteng dari Jatiwangi, helaran ini sekaligus mengajak pengunjung ikut beriteraksi memainkan alat musik dari genteng. Dan antusiasnya luar biasa, mereka tidak hanya sekedar berwisata namun juga lebih mengenal tradisi Sunda,”ucap General Manager Dusun Bambu, Ari Hermanto di Rongga Budaya, Dusun Bambu, Kamis 1 Januari 2026.
Sajian ini, lanjut Ari, merupakan upaya berkesinambungan dari owner Dusun Bambu yang sejak awal ingin menghadirkan destinasi wisata yang mengusung konsep edukasi budaya Sunda.
Selain selalu menggelar event kesenian sunda, Dusun Bambu juga mengusung konsep tatanan lingkungan masyarakat sunda dengan membangun ekosistem layaknya kampung adat.
Di wahana Lembur Urang misalnya, pengunjung diajak untuk mengenal sejarah, arsitektur dan tatanan adat di Kampung Adat Gelaralam, mereka yang masuk diharuskan memakai iket sunda bagi laki-laki dan samping bagi wanita.
“Tatanan adat masyarakat sunda khususnya di kampung adat memiliki nilai dan makna filosofis yang mendalam dalam menciptakan peradaban yang silih asih, silih asuh dan menjaga keseimbangan alam. Kami berharap pengunjung mendapat edukasi nilai luhur leluhur sunda dalam kehidupan modern saat ini,”terangnya.
Ditempat sama, salah seorang personel band etnik Lair, Teddy Nurmanto mengaku bersyukur bisa tampil di area wisata unggulan yang dikenal konsen pada kebudayaan sunda.
Band ini lahir dari kawasan perajin genteng tanah liat Jatiwangi, seiring perkembangan zaman masyarakat Jatiwangi terus melalukan inovasi berbagai karya dari tanah liat. Salah satunya membentuk band yang mayoritas bahan baku alat musiknya dari tanah liat.
“Awalnya kami terinspirasi dari tradisi obrok-obrok yang biasa dilakukakan pada saat membangunkan sahur saat Ramadhan, dari situ kami bersepakat berinovasi membuat band. Dan rupanya musik etnik semi modern ini mendapat apresiasi luar biasa publik,”katanya.
Band ‘Lair’ kini telah banyak mengisi acara bukan hanya di berbagai daerah di Indonesia. Namun, para penikmat musik mancanegara rupanya memiliki apresiasi tinggi pada band ini.
“Lair tuh inspirasinya dari musik obrok-obrok yang ada di wilayah Pantura gitu. Makanya ketika Lair manggung tuh ini jadi salah satu bentuk pertunjukannya bisa mobile, bisa keliling gitu. Menggunakan toa speaker yang udah kita set sebagai instalasi musik ya. Sampai akhirnya kami mendapat kesempatan bermain di Amerika, Eropa seperti Inggris, Jerman, Belanda, Thailand dan beberapa negara lainnya,”kata dia.
‘Lair’ menyuguhkan musik otentik dan art,
Jadi kita mencoba mencari bentuk lain dari tanah liat menjadi genteng, tapi tanah liat menjadi alat musik. Ini tuh sebenarnya serunya, kita tuh kemarin selama sebulan ada art installation dari Jatiwangi juga,”jelasnya



